Katekese Lima Menit
Edisi
Eksorsisme
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, eksorsisme berasal dari istilah Yunani exorkismós, yaitu tindakan mengikat melalui sumpah atau memberikan perintah yang sungguh-sungguh. Dalam Gereja Katolik, eksorsisme merupakan doa resmi Gereja untuk memohon perlindungan dan pembebasan dari kuasa jahat dalam nama Yesus Kristus. Dasarnya dapat kita temukan dalam pelayanan Yesus yang mengusir roh-roh jahat, misalnya dalam Markus 1:23–27. Melalui tindakan tersebut, Yesus menyatakan bahwa Kerajaan Allah hadir dan kuasa kejahatan tidak mampu mengalahkan kuasa Allah.
Dalam Gereja Katolik, dikenal eksorsisme sederhana dan eksorsisme agung. Eksorsisme sederhana terdapat, antara lain, dalam ritus persiapan Sakramen Baptis, ketika Gereja berdoa agar calon baptis dibebaskan dari kuasa dosa dan kejahatan. Sementara itu, eksorsisme agung merupakan tindakan liturgis khusus yang ditujukan kepada seseorang yang dinilai mengalami kerasukan setan. Menurut Kitab Hukum Kanonik Kanon 1172, tidak seorang pun boleh secara sah melakukan eksorsisme terhadap orang yang kerasukan tanpa izin khusus dan tegas dari Ordinaris wilayah. Izin tersebut diberikan kepada imam yang memiliki kesalehan, pengetahuan, kebijaksanaan, dan integritas hidup yang memadai.
Bagaimana Gereja menentukan perlunya eksorsisme? Gereja tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang yang mengalami gangguan, perubahan perilaku, atau penderitaan tertentu sedang dirasuki roh jahat. Penilaian harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan kemungkinan penyebab medis dan psikologis. Pemeriksaan serta pendampingan tenaga kesehatan tetap penting dan tidak boleh diabaikan. Eksorsisme bukan pengganti pengobatan medis maupun pendampingan psikologis. Karena itu, pelayanan ini dipercayakan kepada imam yang mendapat izin khusus dari otoritas Gereja, bukan kepada sembarang orang yang mengaku memiliki kuasa untuk mengusir setan.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai umat beriman? Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap setan, sebab pusat iman kita adalah Yesus Kristus yang telah mengalahkan dosa dan maut. Kita dapat berdoa, membaca Kitab Suci, menerima sakramen-sakramen, bertobat, dan menjalani hidup dalam kasih. Doa bukanlah mantra, Rosario bukanlah jimat, dan benda-benda rohani bukanlah alat ajaib. Semuanya membantu kita mengarahkan hati kepada Allah dan bertumbuh dalam iman. Tujuan utama pelayanan eksorsisme bukanlah mempertontonkan kuasa atas roh jahat, melainkan memohon pertolongan Allah bagi orang yang menderita dan menegaskan kemenangan Kristus atas kuasa kejahatan.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Kristus, bukan karena ketakutan terhadap kuasa jahat, melainkan karena kasih dan kepercayaan kepada Allah. Kita percaya bahwa Kristus adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Karena itu, marilah kita hidup dalam doa, pertobatan, kasih, dan pengharapan, sambil tetap bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan.
Sumber:Kitab Suci: Markus 1:23–27; Markus 3:14–15; Lukas 11:20–22. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 550 dan 1673. Kitab Hukum Kanonik, Kanon 1172. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 391–395, tentang kejatuhan malaikat dan realitas kejahatan