Katekese Lima Menit 
Edisi 
Makna Hari Ketiga Dalam Kebangkitan Kristus

 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Dalam Syahadat Iman kita mengakui bahwa Yesus Kristus “bangkit pada hari ketiga.” Pernyataan ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan memiliki makna teologis yang sangat dalam. Mengapa hari ketiga? Apakah hanya kebetulan, atau ada maksud tertentu dalam rencana keselamatan Allah? Pertama-tama, hari ketiga menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus sungguh nyata dan historis. Yesus benar-benar wafat dan dimakamkan. Dengan adanya rentang waktu hingga hari ketiga, Gereja menegaskan bahwa kebangkitan bukan ilusi atau sekadar simbol, melainkan peristiwa nyata dalam sejarah keselamatan.

Dalam Kitab Suci, “hari ketiga” memiliki makna simbolis sebagai hari penyelamatan Allah. Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan banyak peristiwa penting yang terjadi pada hari ketiga. Nabi Yunus, misalnya, berada dalam perut ikan selama tiga hari sebelum diselamatkan. Kisah ini menjadi gambaran (tipologi) dari kematian dan kebangkitan Kristus. Selain itu, dalam tradisi Israel, hari ketiga sering dipahami sebagai saat Allah bertindak secara menentukan. Dengan demikian, kebangkitan Yesus pada hari ketiga menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak menyelamatkan manusia secara langsung.

Yesus sendiri telah menubuatkan kebangkitan-Nya pada hari ketiga. Ia mengatakan bahwa Anak Manusia akan menderita, wafat, dan bangkit pada hari ketiga. Dengan demikian, kebangkitan ini juga merupakan penggenapan dari sabda Yesus sendiri, yang menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana Allah. Makna lain yang penting adalah bahwa hari ketiga menandai peralihan dari kematian menuju kehidupan. Ini bukan hanya tentang waktu, tetapi tentang transformasi. Dari kegelapan menuju terang, dari keputusasaan menuju harapan, dari kematian menuju kehidupan kekal.

Makna hari ketiga juga sangat relevan bagi hidup kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun mengalami “hari-hari pertama dan kedua”: masa penderitaan, kegagalan, dan kegelapan. Namun iman mengajarkan bahwa selalu ada “hari ketiga,” yaitu saat Allah bertindak dan membawa kita kepada kehidupan baru. Kebangkitan pada hari ketiga mengajarkan kita untuk tidak putus asa. Tuhan bekerja dalam waktu-Nya. Meskipun kita tidak selalu melihatnya secara langsung, Allah sedang mempersiapkan kebangkitan dalam hidup kita.

Saudara-saudari yang terkasih,
marilah kita memegang teguh iman ini: bahwa Kristus bangkit pada hari ketiga sebagai tanda kemenangan Allah atas dosa dan maut. Semoga iman ini memberi kita harapan, kekuatan, dan keberanian untuk menjalani hidup, bahkan di tengah kesulitan sekalipun.

 

Referensi :
Kitab Suci
Lukas 24:6–7
Matius 12:40
Hosea 6:2
Katekismus Gereja Katolik (KGK)
KGK 638 (kebangkitan sebagai inti iman)
KGK 647 (makna hari ketiga)
Dokumen Gereja
Konsili Vatikan II, Dei Verbum
Paus Benediktus XVI, Yesus dari Nazareti